Soft Selling vs Hard Selling: Mana yang Paling Cocok untuk UMKM?

soft selling vs hard selling

Soft selling vs hard selling – Untuk UMKM yang baru mulai jualan, pasti sering bingung:
Mendingan jualan yang halus atau yang to the point?

Itu karena dua metode ini — soft selling dan hard selling — punya gaya komunikasi yang beda banget. Dua-duanya sama-sama efektif, tapi hasilnya bisa berbeda tergantung jenis bisnisnya.

Di artikel ini, kita bahas tuntas apa itu soft selling, apa itu hard selling, perbedaannya, contoh nyatanya pada UMKM, dan bagaimana memilih metode yang paling cocok untuk bisnismu.

1. Apa Itu Hard Selling?

Hard selling adalah teknik penjualan yang langsung, tegas, dan fokus ke ajakan membeli.
Bahasa kasarnya: “Ayo beli sekarang!”

Ciri-ciri hard selling:

  • Kalimat langsung menjual
  • Menawarkan secara agresif
  • Ada unsur urgensi (cepat habis, promo terbatas)
  • Biasanya dipakai untuk closing cepat

Contoh untuk UMKM:

  • “Diskon 50% hari ini! Beli sekarang!”
  • “Tinggal 5 pcs, siapa cepat dia dapat!”
  • “Pesan sekarang sebelum harga naik!”

Keuntungannya:

  • Cocok untuk promo jangka pendek
  • Hasil cepat
  • Menggerakkan orang beli saat itu juga

Kekurangannya:

  • Bisa bikin pelanggan ilfeel kalau terlalu sering
  • Cocok untuk produk murah → kurang cocok untuk produk yang butuh edukasi

2. Apa Itu Soft Selling?

Soft selling adalah teknik penjualan halus yang fokus pada edukasi, storytelling, dan membangun kepercayaan pelanggan sebelum mereka memutuskan membeli.

Ciri-ciri soft selling:

  • Lebih santai
  • Cerita atau edukasi
  • Menampilkan manfaat dulu baru jualan
  • Tidak memaksa membeli

Contoh untuk UMKM:

  • UMKM skincare bikin konten edukasi: “Cara merawat kulit berminyak dengan bahan alami.”
  • Pemilik warung kopi bercerita tentang proses roasting yang bikin cita rasa berbeda.
  • Toko kue berbagi tips memilih kue ulang tahun yang aman untuk anak.

Keuntungannya:

  • Bangun hubungan jangka panjang
  • Cocok untuk brand kecil yang ingin dipercaya
  • Tidak bikin pelanggan merasa “dijualin”
  • Efektif di sosial media dan konten organik

Kekurangannya:

  • Prosesnya lebih lama
  • Tidak cocok untuk promo cepat

3. Soft Selling vs Hard Selling: Apa Bedanya?

FaktorSoft SellingHard Selling
PendekatanHalus, edukatifLangsung, agresif
TujuanMembangun hubunganClosing cepat
Cocok UntukProduk yang butuh edukasiPromo, flash sale, produk impulsif
ResikoProses lamaPelanggan bisa terganggu
Gaya BahasaStorytellingAyo beli sekarang!

Kalau kamu UMKM yang ingin branding jangka panjang, soft selling lebih cocok.
Kalau kamu ingin jualan cepat atau lagi ada promo, hard selling jawabannya.

4. Mana yang Lebih Cocok untuk UMKM?

Jawabannya: kombinasi keduanya.

Tapi kalau harus pilih salah satu, untuk UMKM yang baru bangun brand → soft selling lebih efektif.

Kenapa?

✔ 1. UMKM butuh kepercayaan dulu

Pelanggan Indonesia itu sensitif sama kredibilitas.
Mereka lebih percaya UMKM yang edukatif dan transparan.

✔ 2. Soft selling cocok untuk sosial media

Facebook, TikTok, Instagram, dan Threads lebih “ramah” konten non-promosi.

✔ 3. Jualan tidak terasa maksa

Konten edukasi membuat jualan terasa natural.

✔ 4. Bisa bangun komunitas

Pelanggan loyal itu lahir dari konten yang berguna, bukan promosi non-stop.

Baca Juga

Pengertian Literasi Digital : Arti, Contoh, dan Pentingnya di Era Serba Online

Literasi digital adalah kemampuan seseorang untuk memahami, menggunakan, mengelola, mengevaluasi, dan menciptakan informasi melalui teknologi digital.

5. Kapan Hard Selling Harus Dipakai?

Walaupun soft selling lebih cocok untuk UMKM, hard selling tetap penting, terutama dalam kondisi:

  • Ada promo spesial (diskon 50%, gratis ongkir, bundling)
  • Stok mau habis
  • Momen besar: Ramadan, Natal, Harbolnas
  • Mau kejar target harian

Hard selling = pemungkas.
Soft selling = pembangun fondasi.

Analogi gampangnya:

Soft selling bikin orang suka sama brand kamu.
Hard selling bikin mereka akhirnya beli.

6. Contoh Strategi Kombinasi untuk UMKM

Misalnya kamu UMKM makanan rumahan.

Minggu 1–2: Soft Selling

  • Post edukasi: “Kenapa makanan rumahan lebih sehat daripada makanan instan?”
  • Video behind the scenes memasak
  • Cerita tentang proses memilih bahan

Minggu 3: Hard Selling

  • Promo: “Diskon 20% selama weekend!”
  • Flash sale: “Cuma hari ini 10.000/porsi!”

Alurnya:

  • Edukasi dulu → mereka percaya
  • Baru kasih promo → mereka beli

Efektif banget bro!

Kesimpulan

Baik soft selling maupun hard selling sama-sama penting untuk UMKM.
Perbedaannya hanya di cara dan timing.

Soft selling: bangun hubungan, cocok untuk branding jangka panjang

Hard selling: cocok untuk kejar penjualan cepat

Kombinasinya adalah strategi terbaik

Kalau kamu UMKM yang baru mulai dan belum punya audiens besar → mulai dulu dengan soft selling. Nanti setelah audiens terbentuk, tinggal masuk ke hard selling untuk tingkatkan penjualan.

Santai tapi nendang — itu formula UMKM menang di era digital 😎☕🔥

🚀 Butuh Website Profesional & Cepat Jadi?

Bangun website bisnis yang tampil premium, ringan, dan SEO-ready bareng Yudigital. Mulai dari landing page, company profile, sampai toko online.

Lihat Paket Website →

FAQ – Soft Selling vs Hard Selling

Apakah hard selling masih efektif untuk UMKM?

Masih, terutama untuk promo jangka pendek atau produk dengan harga terjangkau. Tapi jangan terlalu sering karena bisa bikin pelanggan capek.

Apa soft selling cocok untuk semua jenis produk?

Sebagian besar iya. Soft selling efektif untuk produk yang butuh edukasi, cerita, atau value yang ingin ditonjolkan, termasuk makanan, fashion, skincare, dan jasa.

Bagaimana cara menentukan kapan harus soft atau hard selling?

Cek tujuanmu:
Edukasi & branding → soft selling
Promo & target penjualan cepat → hard selling